Melihat Kemuliaan Kristus

Kitab suci membagikan satu janji yang digenapi dalam Kristus yaitu janji mengenai kehadiran Allah. Dan tentu kalau kita berpikir tentang kehadiran Allah, salah satu yang ingin dialami oleh umat Tuhan adalah melihat kehadiran itu.
Kata ‘melihat’ tentu menjadi sangat penting , Musa melihat kemuliaan Allah di atas gunung lalu Tuhan memanggil dia masuk ke dalam kemuliaan itu untuk bertemu dengan Tuhan. Israel melihat kemuliaan itu dan mereka gentar.
Di dalam kitab Taurat, orang Israel menyaksikan, bagaimana pimpinan Tuhan hari demi hari tahun demi Tahun, di tengah-tengah pemberontakan mereka sekalipun Tuhan tetap menyertai. Ini menjadi hal yang sangat mengagumkan tentunya, dan kita berpikir bagaimana kita bisa menikmati memandang kemuliaan yang seperti itu. Kita tidak alami apa yang Israel alami pada waktu mereka keluar dari Mesir. Sehingga ketika kita mengatakan bahwa kita adalah yang melanjutkan pekerjaan Tuhan lewat umat-Nya maka kita mulai bertanya: dimana kemuliaan yang Tuhan izinkan disaksikan Israel? Ketika kita membaca betapa megahnya pemandangan Israel melihat ke gunung dan menyadari Tuhan hadir di situ, maka kita ingin mendapat kesempatan boleh melihat kemuliaan yang sama. Orang ingin mengetahui apa rasanya kita boleh mendapatkan penyertaan Tuhan, dipanggil oleh Tuhan, diberikan Firman oleh Tuhan, dituntun oleh Tuhan, Tuhan memperlihatkan pekerjaan-Nya yang sangat menakjubkan. Maka kita juga bertanya, apakah ada perbedaan antara Tuhan menyatakan diri pada waktu itu dengan cara menyatakan diri sekarang? Apakah perbedaan itu adalah perbedaan yang membuat kita dalam keadaan yang lebih menurun? Apakah perbedaan itu adalah ‘dulu lebih limpah sekarang lebih kurang’? Apakah dulu Tuhan tidak tahan-tahan terus menyatakan diri dan sekarang Tuhan seperti sedang tahan? Apakah ini terjadi karena budaya yang beda?